Mar 15, 2011

satu pertanyaan satu jawaban


Bener-bener gak ada basa-basinya deh orang-orang Singapore, istilah inggrisnya tuh straight forward gitu. Seperti judul untuk tulisan ini lah. Bukan kebetulan semata ketika kami memilih Singapore sebagai negara pertama yang kami tuju dalam perjalanan jauh kami ini, tapi karena penerbangan termurah dibanding ke KL dan Bangkok. Namanya juga budget traveler, apapun itu kan maunya yang murah-murah.

kubah durian 'esplanade'

Setelah kurang lebih dua setengah jam penerbangan dari Ngurah Rai airport, sampailah kami di Changi airport. Tanpa ba bi bu, kami menuju information center untuk menanyakan route bus atau train menuju Geylang, karena kami menginap di daerah sana. Tanpa ba bi bu juga, seorang wanita yang kami tanya menjawab,

"Because this is your first time, it's better for you to take taxi to get there, it charges you around 15 SD. Bus or MRT are too difficult for you. Please wait in line over there. And I hope you enjoy your staying in Singapore."

Ealah... Wong pengennya tuh ngirit, makanya kami nanya gimana caranya naik bus atau train. Kalau naik taxi kan ya gak perlu nanya sampeyan to, mbak. Kami berlalu setelah berterimakasih, dengan perasaan bingung sedikit dongkol bergabung dengan antrean ular naga panjangnya.

Marina Bay terlihat dari Esplanade

Sesampainya di hotel, kami cuma check in dan langsung keluar untuk jalan-jalan. Kejadian hampir serupapun terjadi ketika kami menanyakan dimana station MRT terdekat. Sambil menunjukkan peta mungil di balik business card hotel, seorang receptionist yang kami tanyai menjelaskan tanpa senyuman,
"You are here, just follow this road until you find this lorong, turn left and go straight. The station is on your right. It's around  minutes from here."

Kumpulan gedung entahlah yang terlihat juga dari Esplanade

Mungkin itu kali ya, yang bikin Singapore bisa seperti sekarang ini, teratur, nyaman bagi semua orang, hampir semua sudut kota bersih, public transport bagus, pedestrian nyaman banget. Tidak bertele-tele mirip robot. 


canal di dalam mall lengkap dengan gondola

Aaaaaaah...
Singapore memang kota yang aneh atau entahlah...
Susah banget menemukan kata yang tepat untuk mewakili keheranan kami pada negara satu ini.

Sampai detik ini kami masih saja diherankan dengan kegemaran warga Indonesia yang berwisata ke Singapore.
Apa yang mereka cari?
Belanja-belanji sampai mati kah dari mall satu ke mall yang lain?
Dua hari kami mengunjungi negara tersebut, dan sudah membuat kami menarik nafas panjang dan bilang,
"Sepertinya kami overdosis mall dan gedung-gedung maskulin."

Walaupun kami tidak begitu menyukai keberadaan kami di negeri jiran satu ini, banyak hal yang membuat kami bahagia. Iya, bahagia... Bertolak belakang banget ya? Kami sangat menyukai sistem public transportasinya yang bener-bener lengkap, mudah dan selalu tepat waktu. Andaikan di Indonesia mempunyai sistem public transportasi seperti itu, atau di Bali saja yang mempunyai. Betapa indahnya hidup ini.

Kalaupun tidak menggunakan public transportasi, berjalan kakipun sangat nyaman dilakukan di sepanjang jalan di Singapore. Jarak yang jauhpun terasa sangat dekat. Bahkan demi kenyamanan pedestrian, pemerintah membuatkan jembatan khusus pejalan kaki dan pengendara sepeda di sebelah jembatan untuk kendaraan bermotor. Seperti jembatan baru yang menuju ke Marina Bay building.

jembatan untuk pedestrian yang desainnya aduhai :p
Landmark baru kebanggan Singapore, Marina Bay building. Bangunan yang menjadi pusat bisnis terbaru tersebut mempunyai mall tentunya, serta hotel-hotel berbintang. Sebenarnya kami ingin sekali mengikuti tour untuk menaiki gedung tersebut hingga puncaknya, karena berhubung tiketnya yang agak mahal 20 SGD untuk 30 menit tour, urunglah niat kami.
"Untuk naik kepuncak gedung aja kok mahal, mending makan popia sampai kenyang." Umpat kami dalam hati.

Marina Bay, gedung maskulin yang nggak banget deh 
Akhirnya kami memutuskan untuk ngupi-ngupi di mall di dalam gedung yang mempunyai wujud kapal di atasnya itu. Satu hal yang membuat kami bertanya-tanya,
"Kok ada sungai di dalam mall?"
Tepat di tengah-tengah mall, terdapat sungai buatan yang berujung pada danau buatan juga, plus jembatan yang melintang di atasnya. Kamipun memutuskan untuk ngopi sambil beristirahat sejenak di sebuah kedai kopi karena letaknya tepat di pinggir danau 'wanna be' tersebut. Sebuah kedai kopi franchise, yang tersebar di seluruh Singapore dan Bali juga. Bahkan di Balipun kami belum pernah menyambangi tempatnya, tapi jauh-jauh ke Singapore malah nyangkut di kedai tersebut :p
Ketika kami sedang menikmati coffee latte dan cappucino yang berukuran jumbo, kami di kejutkan dengan air yang tiba-tiba mengalir dari atap transparan berbentuk mangkuk di atas danau 'wanna be' di samping kami duduk. Dengan jelas terlihat air mengalir ke dalam mangkuk, entah dari mana, terombang-ambing hingga mengalir melalui lobang turun ke danau.


Belum juga rasa heran kami hilang, tak berapa lama setelah air terjun palsu berhenti, tiba-tiba melintas sebuah perahu dengan penumpang sepasang manula dan pendayungnya, melewati sungai palsu dan mengitari danau palsu diamping kami.
Voila!!!
Ternyata mereka membuat canal seperti di Venice lengkap dengan gondolanya...
Ya ampyuuuuuuuuuuun...
New I know!!!
Kami speechless...
Tak mampu berkata-kata...



   

Mar 13, 2011

ternyata dicuci

Pertanyaan yang terngiang-ngiang dalam otak selama dua hari di Singapore, akhirnya terjawab juga. Sebelum nyebutin pertanyaan apa itu, lengkap dengan jawabannya, coba deh perhatikan jalanan di Singapore, berdebukah?

Emang aneh nih kota, debu aja tidak ada, apalagi sampah. Dimana-mana tertulis larangan merokoklah, buang sampahlah. Kalau melanggar bakalan kena denda yang bisa dibilang tidak sedikit. Gimana mau buang sampah sembarangan, tempat sampah pada bertebaran di tiap duapuluh meter.

transhbin alias tempat sampah di sepanjang jalan Singapore


trashbin di dalam Esplanade :)
Nah, karena sempet dibuat heran dengan kebersihan nih kota, pake sendal jepit aja, kaki tetep bersih tak ada debunya sama sekali. Timbullah pertanyaan, pada kemana nih debu-debu jalanan. Jangan mikir yang aneh-aneh ya... Kita tidak sebegitunya kok untuk melakukan investigasi akan menghilangnya si debu-debu nakal itu.

Akhirnya...
Iya akhirnya, kami menemukan jawabannya :)

Waktu itu kami sedang menunggu bus jurusan Singapore - KL di agen bus di Golden Mile Complex. Lagi enak-enaknya nunggu bus yang konon selalu tepat waktu, eeeh ada dua orang laki-laki yang menyemprotkan air di lantai emperan Golden Mile Complex. Jangan bayangkan kalau mereka sekedar menyemprotnya dengan selang air yang kayak kita pakai buat nyiram tanaman di rumah. Selang airnya disambungkan pada kompressor, pokoke bayangin aja deh peralatan nyuci motor atau mobil di tempat penyucian. Nah, peralatan begituan kalau di Singapore dipakai untuk nyuci jalanan.
No wonder, hampir tidak ada debu di jalan-jalan di Singapore.

Kira-kira, apa yang bakalan dikatakan para aktivis lingkungan kalau lihat hal tersebut ya?
Walaupun saya bukan aktivis lingkungan, saya selalu menanamkan dalam tingkah laku untuk "SAVE WATER DRINK BEERS"