Feb 8, 2012

tricky kalau cari makan

MAHAL!
Sebuah kata yang mewakili Singapore untuk semua hal. Khususnya mencari tempat makan. Prinsip kami ketika jalan-jalan adalah 'Say No To American Fast Food', it's HARAM hukumnya man!
Bukannya kami racist lho.
Kan sayang tuh, sudah jauh-jauh ke negeri orang, eeeeeeeeh buntutnya makan Big Mac di MacD. Banyak banget makanan lokal yang super nikmat untuk disantap.
Sayang kan kalau terlewati? :)

Balik lagi karena kami adalah budget traveler yang tak memiliki uang berlimpah, tidaklah bisa dengan seenaknya keluar masuk restaurant terkenal disebuah daerah yang biasanya muahal-muahal harganya. Untuk itu, kami musti pinter-pinter buka mata dan menajamkan penciuman.

Salah satu trik yang biasanya kami lakukan adalah,

1. Menguntit orang lokal pada jam-jam makan.
2. Menguntit pegawai mall pada jam makan juga, biasanya mereka ke kantin-kantin pegawai.
3. Melongok ke setiap basement mall yang sering terlihat orang-orang keluar membawa bungkusan.

Dan tentunya ketika menguntit orang, jangan sampai nempel kayak tai dengan pantat. Kalau mereka curiga kan berabe!

Silahkan dicoba kalau merasa tertantang :)

enak dan murah

Dimsum Tiap Saat

Kami merupakan pemakan segala. Hal tersebutlah membuat kami beruntung dalam urusan perut ketika berada di tempat baru. Selain sebagai si pemakan segala, kami juga hampir tak pernah alergi pada makanan apapun. Sehingga, makanan apa saja yang kami pikir belum pernah dicoba, akan langsung kami sikat.

Ternyata keputusan kami untuk mencari penginapan di daerah Geylang ketika kami berkunjung ke Singapore, sangatlah tepat. Selain harganya yang miring, ternyata banyak restaurant yang buka 24 jam.


Sempat kami berpikir agak panjang sebelum memutuskan untuk membooking penginapan di daerah Geylang. Pertimbangan utama adalah karena Geylang merupakan daerah prostitusi, yang ada dalam bayangan kami adalah ribut dan banyak orang mabuk ngawur. Namun ternyata, daerah tersebut tak seburuk yang kami bayangkan. Tak ada kejadian itu. Walau ketika hari masih dibilang pagi, ketika kami menuju restaurant untuk ngopi dan sarapan, banyak Oom-oom dan Engkong-engkong yang sudah nenggak bir di restaurant-restaurant yang kami lewati.

Geylang memang tak sebersih daerah lain, masih kami temukan tempat sampah yang dicampur antara organic dan non-organic. Tapi justru itulah yang kami sebut kalau daerah Geylang jauh lebih manusiawi dibanding daerah Orchard atau apalah itu.

Sepertinya semesta memang sedang berpihak pada kami, karena sarapan yang bagi kami merupakan menyantap makanan ringan peneman kopi, menjadi makin mantabs. Banyak restaurant yang menjual dim-sum. Dim-sum dengan bermacam-macam jenis. Dan bahkan hingga detik ini ketika kami menulis postingan ini, kami masih bisa merasakan lezatnya.

lotus leaf rice

rice noodle roll

Selama dua hari di Singapore, dua kali dalam sehari kami mampir ke restaurant dim-sum di dekat hotel tempat kami menginap. Pagi hari ketika sarapan sebelum mengarungi kota mungil tersebut, berikutnya setelah seharian jalan. Menghabiskan berbotol-botol bir dengan ditemani dim-sum tentunya. Hingga tidurpun nyenyak sampai pagi menjelang.

Mar 15, 2011

satu pertanyaan satu jawaban


Bener-bener gak ada basa-basinya deh orang-orang Singapore, istilah inggrisnya tuh straight forward gitu. Seperti judul untuk tulisan ini lah. Bukan kebetulan semata ketika kami memilih Singapore sebagai negara pertama yang kami tuju dalam perjalanan jauh kami ini, tapi karena penerbangan termurah dibanding ke KL dan Bangkok. Namanya juga budget traveler, apapun itu kan maunya yang murah-murah.

kubah durian 'esplanade'

Setelah kurang lebih dua setengah jam penerbangan dari Ngurah Rai airport, sampailah kami di Changi airport. Tanpa ba bi bu, kami menuju information center untuk menanyakan route bus atau train menuju Geylang, karena kami menginap di daerah sana. Tanpa ba bi bu juga, seorang wanita yang kami tanya menjawab,

"Because this is your first time, it's better for you to take taxi to get there, it charges you around 15 SD. Bus or MRT are too difficult for you. Please wait in line over there. And I hope you enjoy your staying in Singapore."

Ealah... Wong pengennya tuh ngirit, makanya kami nanya gimana caranya naik bus atau train. Kalau naik taxi kan ya gak perlu nanya sampeyan to, mbak. Kami berlalu setelah berterimakasih, dengan perasaan bingung sedikit dongkol bergabung dengan antrean ular naga panjangnya.

Marina Bay terlihat dari Esplanade

Sesampainya di hotel, kami cuma check in dan langsung keluar untuk jalan-jalan. Kejadian hampir serupapun terjadi ketika kami menanyakan dimana station MRT terdekat. Sambil menunjukkan peta mungil di balik business card hotel, seorang receptionist yang kami tanyai menjelaskan tanpa senyuman,
"You are here, just follow this road until you find this lorong, turn left and go straight. The station is on your right. It's around  minutes from here."

Kumpulan gedung entahlah yang terlihat juga dari Esplanade

Mungkin itu kali ya, yang bikin Singapore bisa seperti sekarang ini, teratur, nyaman bagi semua orang, hampir semua sudut kota bersih, public transport bagus, pedestrian nyaman banget. Tidak bertele-tele mirip robot.